Oleh Ahmad Muayyad
Tanggal 1 Juni 2015, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan Gerakan Nasional “Ayo Mondok”. Sebuah gerakan kembali ke pesantren yang berada di bawah koordinasi Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI).
Selang setahun kemudian, tepatnya tangal 13-15 Mei 2016, Silatnas pertama “Ayo Mondok” digelar di Pasuruhan, Jawa Timur. Menurut koordinator “Ayo Mondok”, KH Luqman HD Attarmasi, Silatnas ini mengusung agenda ingin menunjukkan kepada masyarakat dunia secara luas bahwa pesantren merupakan lembaga yang masih relevan, imun, dan berkemajuan. Lembaga pendidikan yang bersih, sehat dan ingin mencetak generasi umat manusia menjadi umat yang benar, pintar, dan menjadi harapan bagi bangsa dan negara (NU Online, 06 April 2016).
Ramadhan tahun ini menjadi momentum bagi gerakan “Ayo Mondok” untuk lebih intensif menjaring santri baru, mengenalkan dunia pesantren beserta tradisi yang ada di dalamnya. Terlebih, Ramadhan 1437 hijriah ini bertepatan dengan masa libur panjang sekolah, sehingga bisa dimanfaatkan pelajar untuk mondok singkat atau posonan.
Tradisi Posonan
Posonan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa “poso” yang berarti puasa. Posonan berarti mondok alias nyantri di suatu pesantren pada bulan puasa. Dalam bahasa Indonesia lebih sering disebut pesantren ramadhan, atau pesantren kilat. Yang menarik, kitab-kitab yang dikaji selama posonan ini biasanya selalu khatam sebelum ramadhan pamit.
Di Jawa Tengah misalnya, banyak pesantren yang menyelenggarakan posonan. Bahkan hampir setiap pesantren selalu ada posonan di setiap tahunnya. Di pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang contohnya. Pasantren asuhan KH Maimoen Zubair tahun ini mengkaji kitab Syajaratul-Ma’arif-wal-Achwaal wa Sholichul Aqwal wal A’mal karya Syaikh Izzuddin bin Abdissalam. Pada Ramadlan tahun lalu, kiai sepuh ini mengkaji kitab Irsyadul Ibad karya Syeikh Izzuddin bin Abdil Aziz Al-Malibari. Kajian kitab ini khatam dalam jangka waktu lima belas hari. Kiai Maimoen juga memberikan ijazah sanad keilmuannya kepada santri-santriposonan.
Posonan di Sarang Rembang, bukan hanya ngaji pada Mbah Maimoen saja. Di sana ada beberapa kiai muda yang mengajar berbagai varian kitab, mulai kitab fiqih sampai nahwu-shorof. Di pesantren Ma’hadu Ulumis Syar’iyyah biasanya mengkhatamkan Tafsir Jalalain tak kurang dari sebulan.
Nah, bagi yang tidak berkesempatan ikut posonan, tidak perlu khawatir. Syekh Izzuddin bin Abdil Aziz Al Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in memberi ulasan lengkap agar seorang muslim bisa memanfaatkan waktunya di bulan suci ramadhan.
Petama, perbanyak sedekah dan membaca Al-Qur’an. Dalam hal membaca Al-Qur’an ini, waktu-waktu yang utama adalah antara sholat Maghrib dan Isya’, kemudian di waktu sahur, dan selepas Subuh. Kedua, perbanyak i’tikaf. Lebih bagus lagi kalau membaca Al-Qur’annya di masjid. Sebagaimana yang tertera dalam kitab At Tibyan fii Adabi Chamalatil Qur’an, bahwasanya sebagian ulama mensunahkan membaca Al-Qur’an di masjid dikarenakan bisa sekalian memperoleh keutamaan beri’itikaf. Tentunya dengan catatan harus niat i’tikaf.
Dengan kata lain, jika kita tidak ada waktu ikut posonan, paling tidak kita bisa ikut tholabul ilmi. Mengikuti pengajian-pengajian di masjid atau mushola sekitar. Sementara bagi yang mau posonan ayo segera ke pesantren, mumpung ramadhan belum undur diri.
Ahmad Muayyad
Siswa Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus