Istilah puasa ramadan selalu diasosiasikan dengan istilah-istilah lain yang mengandung suatu konsep yang merangkai makna ramadan secara komprehensif. Ramadan akan sempurna, bahkan sah dalam bahasa fikih, manakala rangkaian konsep dari istilah itu dipahami atau dikerjakan.

Beberapa istilah yang selalu dikaitkan dengan ramadan setidaknya dibagi menjadi empat domain. Pertama, istilah-istilah yang menunjukkan kedatangannya seperti hilal, hisab dan rukyah. Awal masuk ramadan hanya diketahui melalui bulan (hilal) baik dengan cara perhitungan kaidah ilmu falak (hisab) atau mata telanjang (rukyah).

Domain istilah ini harus diketahui umat muslim dalam kaitannya dengan penentuan awal ramadan, namun begitu masing-masing individu tidak harus menjalankannya. Ini dikarenakan, umat muslim bisa mengetahuinya dengan cara mengikuti ahli falak atau pemerintah.

Kedua, istilah yang berarti amalan (aktivitas) di dalamnya seperti tarawih, khatmil Qur’an, tadarus, nuzulul Qur’an, sadaqah, ta’jil dan zakat. Amalan inti yang selalu mengiringi ramadan adalah salat 8 atau 20 atau 40 rakaat setelah salat isya’ (tarawih). Selain itu membaca Qur’an mulai dari surat alfatihah sampai annas (khatmil Qur’an) juga merupakan ritual yang dikerjakan di dalamnya. Kalaupun tidak sampai selesai, selama ramadan Qur’an dianjurkan dibaca (tadarus). Amalan ini sangat erat kaitan dengan penurunan Qur’an pada tanggal 17 ramadan (nuzulul Qur’an), sehingga perlu diperingati dengan berbagai aktivitas yang terkait dengannya. Sementara ta’jil merupakan suatu kegiatan untuk mensegerakan berbuka puasa yang biasanya dibarengi dengan memberi hidangan buka puasa (sadaqah).

Domain istilah kedua menunjukkan bahwa masing-masing muslim tidak cukup hanya memahami, melainkan dianjurkan untuk mengerjakannya, kecuali mengeluarkan harta berupa makanan pokok sekitar 2,5 kg (zakat) yang merupakan kewajiban.

Ketiga, istilah yang menunjukkan waktu-waktu khusus yang dijadikan patokan memperbanyak amalan di dalamnya seperti lailatul qadar dan witr. Suatu malam yang jika digunakan untuk beribadah pahalanya setara dengan seribu bulan dan setiap doa dikabulkan Allah (lailatul qadar). Salah satu tanda kemunculannya adalah berada di tanggal ganjil (witir) bulan ramadan. Sebagian besar ulama mengatakan yang dimaksud ganjil adalah setelah tanggal duapuluh.

Domain ketiga ini menunjukkan bahwa selain aktivitas kebaikan yang dilipatgandakan pahalanya, ramadan memiliki keistimewaan waktu yang dianjurkan diketahui dan digunakan sebaik-baiknya oleh umat muslim.

Keempat, istilah-istilah yang menunjukkan kegiatan yang dilakukan setelahnya seperti idul fitri, halal bi halal dan puasa syawal. Setelah menjalankan ibadah selama satu bulan penuh, ramadan dirayakan dengan salat 2 rakaat pada bulan syawal dipagi hari (salat idul fitri). Di saat idul fitri, guna menyempurnakan ibadah ramadan, umat muslim saling memaafkan (halal bi halal), sehingga bersih dari dosa seperti bayi baru lahir, bahkan memiliki tabungan pahala yang dikerjakan sebelumnya atau selama ramadan.

Yang tidak kalah penting guna menyempurnakan ramadan dan persiapan satu tahun ke depan sampai bertemu ramadan lagi adalah berpuasa selama 6 hari di awal bulan syawal (puasa syawal). Manfaat dari puasa ini adalah akan diberi ampun semua dosa selama satu tahun baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.

Dengan memperhatikan domain istilah di atas, sebenarnya ramadan tidak dimaknai sekedar bulan yang diwajibkan berpuasa, melainkan dikorelasikan dengan berbagai aktivitas ubudiyyah (beribadah) dan ijtimaiyyah (sosial). Tanpa mengimplementasikan konsep istilah-istilah tersebut, makna puasa ramadan tidak sempurna. Artinya, puasa ramadan yang dijalankan umat muslim menjadi nirarti (tidak mendapatkan pahala) manakala tidak didukung aktifitas-aktifitas tersebut, bahkan bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Maka dari itu selayaknya umat muslim memahami dan menjalankan beberapa konsep dari domain istilah di atas dan aktifitas kebaikan lain sebagai satu rangkaian yang tak terpisahkan dalam usaha menjaga kualitas puasa di bulan suci ini.

Khabibi Muhammad Luthfi (Guru Ngaji Ponpes Dahi).